by

Bagaimana Mengatasi Kekurangan Guru untuk Rumah Tahfizh

Hallosukabumi.com – Seiring berkembangnya rumah tahfizh atau halaqah tahfizh, permintaan terhadap guru-guru tahfizh semakin meningkat. Kekurangan guru tidak hanya terjadi di rumah tahfizh, halaqah tahfizh, maupun pesantren tahfizh yang baru berdiri. Bahkan, pesantren-pesantren tahfizh yang sudah bertahun-tahun berdiri juga kekurangan guru.

Bagaimana pesantren tahfizh bisa kekurangan guru? Bukankah pesantren meluluskan hafizh dan hafizhah setiap tahun?

 

Ya, memang benar. Namun, tanpaknya minat masuk ke sekolah-sekolah tahfizh membuat terjadinya peningkatan drastis jumlah murid di sekolah-sekolah tahfizh. Sementara itu, tidak semua hafizh dan hafizhah lulusan pesantren tahfizh siap menjadi guru. Banyak yang masih melanjutkan sekolah, sebagian lagi memilih kesibukan di luar pendidikan. Dan memang tidak setiap hafizh bisa atau tekun menjadi guru.

Sementara itu, banyak sekolah tahfizh mengharuskan halaqah kecil untuk pelaksanaan program tahfizh. Satu guru hanya bisa mengampu sepuluh hingga lima belas santri. Lebih banyak dari lima belas, program halaqah menjadi tidak efektif. Proses pembimbingan tahfizh menjadi tidak maksimal.

Dari sinilah, kita tertantang untuk mewujudkan dua hal:

  1. Sekolah-sekolah tahfizh baru untuk kaderisasi guru-guru tahfizh.
  2. Metode yang memungkin satu guru mengajar lebih banyak santri tanpa mengurangi kualitas program tahfizh.
  3. Program asistensi yang efektif. Murid-murid senior diprogram agar bisa menjadi asisten guru. Hal ini selain meringankan tugas guru tahfizh utama, juga memberikan manfaat langsung kepada murid senior. Manfaat pertama, memantapkan hafalannya dengan sering menyimak hafalan yuniornya. Kedua, membiasakan diri menjadi muhafizh, sehingga ketika kelak lulus bisa mengajar tahfizh tanpa canggung lagi.

Oleh : Hawin Murtadlo, Pengurus pesantren dan sekolah tahfizh.

News Feed