by

Dagang Bisa Jadi Solusi, Antisipasi Kawasan Rawan Kejahatan

Hallosukabumi.com – Kemaren ada temen yang ngajakin saya ngobrol.

Dia bercerita kalau di daerahnya yang jalur lalu lintasnya sepi itu sering terjadi kejahatan pembegalan kendaraan bermotor.

 

Walaupun pihak keamanan sudah patroli tapi tetap saja, jika sudah selesai patrolinya, para penjahat datang lagi.

“Gimana ya leh?” tanyanya padaku

“Oh kalau boleh berpendapat sih solusinya disepanjang jalan di daerah kamu itu harus ada warga yang dagang.”

“Maksudnya gimana leh?” tanya dia penasaran.

“Warga situ harus ikut berpartisipasi menjaga juga. Caranya ya itu tadi jualan di daerah situ. di sepanjang jalur itu. Karena pengalaman di daerah saya, di bawah jembatan tol Plered, dan jalan jalur Watu Belah dulu sering menjadi tempat pembegalan dan transaksi narkoba, karena sepi.”

“Sekarang setelah banyak yang jualan disitu di bawah jembatan jalan tol dan sepanjang jalur jalan watu belah itu, kini mulai aman. Angka kejahatan sudah nol. Solusi itu bisa ditiru di daerah kamu” jelasku padanya.

“Hanya dagang?” tanyanya heran.

“Iya, dengan adanya pedagang di tempat rawan itu orang akan banyak yang datang untuk melakukan transaksi jual beli, area situ jadi rame. Maka pelaku kejahatan akan berpikir dua kali jika mau melakukan aksi amoralnya,” jelasku padanya.

“Dan dengan warga situ berdagang, kegiatan ekonomi bisa berjalan dan menambah pendapatan warga juga,” tambah saya.

“Dimulai dari mana leh” tanyanya lagi.

“Kamu coba bicara dengan pak RT, dan ajak warga berjualan disitu, biar nanti pak RT yang akan membuat aturannya. Kalau saran saya sih, lapak untuk pedagangnya tidak boleh dibuat permanen, artinya harus bongkar-pasang, dan tidak boleh menjadikan tanah itu sebagai hak milik, karena takutnya dikemudian hari diperjual-belikan atau disewakan”.

“Itukan tanah negara. Siapa saja boleh dagang, namun setelah dia tidak lagi berjualan, maka tidak boleh menyewakan tanah tempatnya itu, dia harus rela menyerahkannya pada warga lain yang siap berdagang.. bukan malah mengaku-ngaku,” jawab saya padanya.

“Iya, tapi kan perlu modal?” sergahnya.

“Ya modal bisa melalui pinjaman ke koperasi. kalau ada koperasi desa ya bagus, pak RT mu itu nanti bisa bicara dengan pimpinan koperasinya, agar diberikan kemudahan gitu.”

“Semisal nggak ada koperasi, ya bisa saja mushola atau masjid di daerah ente dana infak dan shodaqoh, zakat nya diberdayakan untuk kepentingan ekonomi umat. Asal kaliannya punya semangat dan komitmen, jujur. Jangan karna itu uang mushola atau masjid atau dana umat lalu kalian seenaknya. Harus punya tanggung jawab,” papar saya.

“Iya ya leh, boleh tuh” dia mulai memahami.

“Jangan sampai kita berhutang ke rentenir. Ini malah nambah masalah, sudah banyaklah contoh kejatuhan gegara kita minjem uang ke rentenir.” ujarku sambil mengecek barang, kiriman dari suplier yang sudah datang.

Dia lalu berkata, “kalo gitu pengurus mushola atau masjid meski mengerti hal kayak gitu ya. bahwa mushola itu harus jadi pusat pemberdayaan ekonomi umat,”

“Ya kira-kira begitu,” pungkasku.

Oleh: Ahmad Sholeh, Pedagang Sembako.

News Feed