by

Jangan Dikira soal Untung Semata, Dagang juga Bicara Kepedulian

Hallosukabumi.com – Pak Abdul pagi-pagi membuka warungnya, sekitaran jam enam pagi. Dia ditemani isteri dan anak laki-lakinya yang berusia tiga belas tahun.

Agak siangan dikit seorang sales roti datang ke warungnya. Sales itu mengecek roti titipannya.

 

Pak Abdul dari dalam warung bilang ke sales itu. “Mas ada sisa roti kiriman minggu kemarin. Dua biji, tolong diambil dan diganti ya.”

Kemudian sales itu mengecek dan mengambil roti beserta alas tempatnya. “Siap nanti ganti ya,” kata sales itu.

Ia lalu pergi ke motornya yang dipenuhi tumpukan rak roti. Dan kembali menyerahkan roti.

Pak Abdul sudah mempersiapkan uang untuk membayar roti tersebut.

Sebelum menyerahkan uang, pak Abdul mengecek roti yang sudah ditaruh di meja lapak khusus roti.

“Loh ini kan roti yang lama itu yang saya serahkan ke kamu buat diganti. Kenapa ditaruh di sini lagi?” tanya pak Abdul dengan suara agak meninggi.

“Ini baru kok pak,”awab sales itu.

“Baik kalo gitu saya kasih tahu ya. Roti yang sudah lama itu sudah saya kasih tanda,” kata pak Abdul sembari memperlihatkan tanda yang ia sebut.

Sales itu terlihat gelagapan.

Kata pak Abdul, “Ya sudah gini saja, ini uang roti kamu saya bayar full, rotinya kamu bawa lagi dan mulai sekarang tidak usah kirim roti ke saya lagi ya.”

“Pak, saya minta maaf.”

“Kamu sudah melakukan hal ini dua kali. Dan ndak ada perubahan,” tegas pak Abdul.

Setelah sales itu mengambil semua roti produknya di warung pak Abdul. Ia langsung bergegas pergi.

Anak laki-laki pak Abdul lalu menghampiri. Dan bertanya, “Pah, ada apa dengan sales itu?”

“Nak, warung ini kelak yang akan melanjutkan dagang adalah kamu. Jaga nilai-nilai etika dalam berbisnis. Pegang teguh kejujuran. Bisnis atau dagang itu terkait erat dengan rasa peduli. Jika dagangmu tidak mengindahkan kesehatan konsumenmu, maka tunggulah kehancurannya.”

“Seperti sales roti itu. Dia tidak peduli dengan kesehatan konsumennya. Sehingga roti yang lama pun tetap ia jual. Padahal sudah tidak baik untuk dimakan. Yang penting ia dapat untung.”

“Jangan tiru perilaku seperti itu. Dagang mengambil keuntungan itu wajar. Tapi jika sudah tidak beretika maka pasti jatuh,” bapaknya menjelaskan panjang lebar.

Si anak mendengarkan dan mengangguk.

Kemudian bapaknya meminta anaknya merapikan kardus bekas yang ada di pinggir warungnya. Karena bentar lagi datang pembeli kardus bekas itu.

Oleh: Ahmad Sholeh, Pedagang Sembako

News Feed