by

Kepala BKPM Sebut Kebijakan Pemprov Jabar Sangat Pro Investasi

Hallosukabumi.com, Bandung – Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengapresiasi Pemprov Jabar yang sangat mendukung kemudahan berinvestasi. Hal itu terbukti dari nilai investasi di Jabar yang selalu menjadi yang tertinggi secara nasional dalam tiga tahun terakhir.

“Saya berikan apresiasi kepada Pemda Jabar bahwa realisasi investasi tertinggi, artinya kebijakan pemerintah Jabar sudah pro investasi. Investasi Jabar dari Januari hingga September sekitar Rp86,3 triliun. Dan selama tiga tahun terakhir selalu menjadi daerah tujuan investor PMA dan PMDN. Ini menunjukan kebijakan daerah dan pelayanan perijinan memberikan kepuasan investor, apresiasi kepada Kang Emil,” ujarnya dalam sambutannya membuka West Java Investor Summit 2020, Senin, 16 November 2020.

 

Ia mengatakan sekalipun UMK atau UMR di wilayah Jabar termasuk tertinggi, namun investor masih tetap mau masuk karena banyak nilai positif di Jabar. Selain kemudahan perijinan, juga karena tenaga kerja dianggap lebih produktif dibandingkan daerah lain.

Secara nasional, realisasi investasi di Indonesia hingga September mencapai Rp611,6 triliun, dari total target Rp817, 2 triliun. Menurutnya target investasi itu sudah direvisi sejak pandemic, dari sebelumnya sebesar Rp886 triliun.

Secara wilayah, sebaran investasi di Indonesia antara Jawa dan luar Jawa sudah semakin seimbang, hanya berbeda 0,3 persen saja. Ini menunjukan investor sudah mulai tertarik masuk di luar Jawa. Hal itu didukung dengan infrastruktur luar Jawa yang dalam lima tahun terakhir gencar dibangun.

“Artinya proses investasi berkualitas semakin imbang, ini indikasi positif. Ini tidak lepas dari pembangun infrastruktur, karena syarat investor masuk itu infrastuktur dan biaya logistik yang terjangkau,” tegasnya.

Selain investasi baru, pemerintah juga terus menggeliatkan investasi yang terhenti. Setidaknya ada dana investasi Rp780 triliun yang tertahan karena investasi terhambat. Bahlil mengatakan sekitar  67 persen sudah bisa dilanjutkan lagi, diantaranya sejumlah proyek ada di Jabar.

“Investasi mangkrak ini ada sebabnya, antara lain tumpeng tindih aturan daerah, provinsi hingga pusat. Kemudian ego sectoral antara wilayah dan persoalan tanah. Saya berharap ada jalan keluarnya,” tegas dia.

Ia berharap investasi di Jabar nantinya dapat menyerap tenaga kerja cukup besar untuk mengurangi dampak pandemic. Sebab sekitar 15 juta tenaga kerja saat ini masih menganggur dimana sekitar 5 juta diantaranya karena terdampak COvid-19.

Dalam WJIS 2020, Gubernur Jabar Ridwan Kamil menandatangani sejumlah MoU untuk realisasi investasi di kawasan Rebana, dengan potensi investasi lebih dari Rp33 triliun. (jbr)

News Feed